Seorang karyawan memilih menjadi bagian dari sebuah organisasi demi mencapai tujuan-tujuan pribadinya. Ada karyawan yang ingin mendapatkan manfaat finansial, ada yang mengharapkan pengalaman baru, ada pula yang ingin meraih status sosial yang tinggi saat memutuskan bergabung dengan perusahaan. Ada lagi karyawan yang ingin mendapat peluang menjadi bagian dari kelompok atau bertujuan menggunakan potensi yang dimiliki untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Tujuan-tujuan pribadi tersebut menentukan bagaimana karyawan menjalankan tugas dan menyelesaikan pekerjaannya. Semakin besar keinginan untuk memenuhi tujuan tersebut maka akan semakin besar kebutuhan untuk berhasil dalam pekerjaan yang ditekuni.
Bagi organisasi, tujuan-tujuan pribadi dari karyawannya tidaklah menjadi satu persoalan sepanjang tidak bertentangan dengan tujuan organisasi. Perusahaan justru merasa mendapat keuntungan jika tujuan pribadi karyawan dapat selaras dengan tujuan organisasi. Kondisi tersebut menciptakan situasi yang saling menguntungkan antara karyawan dan perusahaan. karyawan yang memiliki tujuan pribadi yang jelas dan kuat akan mendorongnya bekerja dengan sungguh-sungguh dan berusaha menemukan jalan pemecahan untuk mengatasi hambatan dalam pekerjaanya. Ketika karyawan berhasil meraih tujuannya maka akan sekaligus menghasilkan konsekuensi tercapainya tujuan organisasi.
Terpenuhinya tujuan organisasi merupakan alasan sebuah organisasi didirikan. Suatu perusahaan memiliki visi misi dan tujuan yang ingin dicapai dengan sejumlah strategi yang ditetapkan. Karyawan sebagai aset perusahaan akan sangat menentukan keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Ketika karyawan bekerja sesuai dengan SOP yang ditetapkan dan menghasilkan output yang diharapkan maka besar kemungkinan perusahaan akan mencapai tujuan. Hasil pekerjaan yang ditunjukkan karyawan dapat berupa tingkat produksi yang dihasilkan, kualitas layanan kepada pelanggan, maupun profesionalitas dalam bekerja.
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil kerja karyawan, diantaranya adalah kepuasan kerja. Kepuasan kerja adalah penilaian subjektif karyawan dengan membandingkan antara ekspektasi dengan kenyataan yang diterima terkait aspek pekerjaan. Kepuasan karyawan mengenai upah, relasi dengan rekan, kepemimpinan dari atasan, serta kondisi lingkungan kerja akan ditentukan dari seberapa jauh kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Semakin kecil kesenjangan tersebut maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan karyawan. Sebaliknya semakin lebar perbedaan antara apa yang diharapkan dengan apa yang diterima dari perusahaan maka akan menimbulkan ketidakpuasan.
Ketika karyawan merasakan puas terhadap apa yang ia terima dan dapatkan dari pekerjaan, maka akan muncul perilaku profesional dalam bekerja. Karyawan berusaha memenuhi standar dalam bekerja dan mencapai sasaran kerja yang ditetapkan dengan penuh kesungguhan. Sebaliknya karyawan yang merasa tidak puas dengan penghasilannya, atau kecewa terhadap atasan, memiliki hubungan kurang harmonis dengan rekan, atau lingkungan kerja yang kurang mendukung, maka karyawan akan terdorong untuk bekerja secara asal-asalan dan tidak berusaha memberikan yang terbaik bagi perusahaan.
Kepuasan karyawan sendiri terbentuk oleh sejumlah faktor yang bersumber dari dalam diri karyawan. Diantaranya adalah keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work life balance atau disingkat WLB). WLB merupakan kondisi ketika kehidupan bekerja berinteraksi dengan pekerjaan. Hasilnya, pekerjaan dapat mengganggu kehidupan pribadi atau dapat pula memperkaya kehidupan karyawan. Sebaliknya kehidupan pribadi pun dapat mengganggu pekerjaan namun dapat pula justru mendukung kemampuan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan. Semakin tinggi WLB maka semakin karyawan dapat memperkaya kehidupannya dengan pekerjaan atau sebaliknya pekerjaan akan memperkaya kehidupan pribadinya. Semakin rendah WLB maka antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, satu dengan yang lain saling mengganggu.
Karyawan yang merasa pengalaman kerjanya dapat meningkatkan kualitas kehidupan pribadinya, akan merasa lebih puas dengan aspek-aspek dalam kehidupan kerjanya. Kepuasan yang tinggi tersebut selanjutnya akan mendorongnya berperilaku profesional. Sebaliknya, ketika seorang karyawan merasa beban kerjanya justru memperburuk kualitas hubungannya dengan keluarga atau teman, maka ia akan merasa kurang puas dengan apa yang ia dapatkan dalam pekerjaan. Kondisi ini membuatnya bekerja dengan sikap dan cara yang buruk. Demikian pula ketika karyawan merasa kehidupan pribadinya mendukung pekerjaannya, ia akan merasa lebih puas dengan yang ia dapatkan dari pekerjaan sehingga sikap kerja dan cara kerjanya lebih baik. Namun jika karyawan merasa kehidupan pribadinya mengacaukan pekerjaanya, ia akan merasa tidak mendapatkan apa yang ia harapkan sehingga menurunkan profesionalitasnya dalam bekerja.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan karyawan dalam menjaga keseimbangan kehidupan dengan pekerjaannya akan menentukan tingginya tingkat kepuasan kerjanya. Kepuasan kerja tersebut kemudian berdampak pada profesionalitasnya yang tinggi dalam menjalankan tugas. Keseimbangan kehidupan kerja menentukan tingkat profesionalitas kerja karyawan melalui perantara tingkat kepuasan kerja.
Kata kunci: karyawan, kepuasan kerja, profesionalitas kerja, work-life balance
Sumber: Harahap, SW; Lubis, R & Turnip, K. (2022). Pengaruh Work-Life Balance terhadap Profesionalitas Kerja Melalui Mediasi Kepuasan Kerja pada ASN di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan. Jurnal Mukadimah. Vol 7 No 1, Februari 2023.p. 190- 198 Universitas Medan Area.